Pakai Cara Biasa, Indonesia Perlu 45 Tahun untuk Capai AKI di Bawah 100

angka kematian ibu di indonesia
Bagikan cerita ini

Angka kematian ibu atau kerap disingkat AKI, menjadi salah satu indikator yang penting untuk menggambarkan status kesehatan ibu dan gizi, kesehatan lingkungan, dan tingkat pelayanan kesehatan suatu negara. 

Sedangkan yang dimaksud dengan kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan, tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan oleh kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh. Angka kematian ibu dihitung per 100.000 kelahiran hidup. 

World Health Organization (WHO) mencatat bahwa pada 2017, setiap harinya ada 810 ibu di dunia meninggal dunia akibat persalinan. Dari jumlah tersebut, 94% adalah kematian ibu yang terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah.  Sebab kematian ibu terjadi setelah melahirkan, yaitu karena perdarahan, infeksi atau tekanan darah tinggi saat kehamilan. 

Angka kematian ibu di Indonesia

Bagaimana dengan AKI di Indonesia? Sayangnya, hingga kini angka kematian ibu di Indonesia terhitung cukup tinggi. Berdasarkan SUPAS 2015, maternal mortality ratio atau AKI di Indonesia untuk periode 2011 hingga 2014 adalah sebesar 305. Itu artinya ada 305 kematian ibu per 100,000 persalinan atau ada sekitar 15.000 kematian ibu per tahun atau sama dengan 2 ibu meninggal setiap jamnya. 

Tingginya AKI di Indonesia ini terutama disumbang oleh beberapa daerah, yaitu Nusa Tenggara, Maluku, Kalimantan dan Papua. 

Sementara jika dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, maka AKI di Indonesia hanya lebih baik dari Myanmar dan Laos. Dengan demikian, Indonesia merupakan negara dengan AKI tertinggi ketiga di ASEAN. 

Target penurunan AKI di Indonesia 

Mengingat angka yang tinggi ini, dan pentingnya penurunan angka kematian ibu sebagai salah satu target SDG (Sustainable Development Goals), maka pemerintah pusat telah menentukan target penurunan AKI. 

Hal ini disampaikan oleh Dr. dr. Rr. Brian Sri Prahastuti, MPH, tenaga ahli utama staf kepresidenan RI dalam webinar Inovasi Teknologi Alat Kesehatan sebagai Strategi Percepatan Penurunan AKI, AKB dan Stunting, yang diselenggarakan Sehati Group. Melalui pemaparan yang disampaikannya, target penurunan AKI di Indonesia adalah sebagai berikut: 

20202021202220232024Total
AKI menurun hingga 230/100.000 KHAKI menurun hingga 217/100.000 KHAKI menurun hingga 205/100.000 KHAKI menurun hingga 194/100.000 KHAKI menurun hingga 183/100.000 KHAKI menurun hingga 183/100.000 KH

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BKKBN, Dr. dr. Hasto Wardoyo, SpOG(K), menyebutkan bahwa penurunan AKI di Indonesia yang tercatat antara tahun 2010 hingga 2015 adalah sebesar 2,4% per tahun (annual reduction rate). 

“Sementara jika ingin mencapai target di tahun 2030 katakanlah AKI di angka 70, maka diperlukan kecepatan penurunan menjadi 9,4% per tahun. Padahal secara retrospektif kecepatan penurunan kita hanya 2,4%. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang luar biasa,” ucapnya. 

Itu artinya, dengan upaya yang sama, maka diperlukan waktu minimal 45 tahun bagi Indonesia untuk mencapai target AKI di bawah 100/100.000 kelahiran hidup.

Paradok dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu

Di dalam kesempatan yang sama, Dr. Hasto juga menyampaikan adanya paradok dalam upaya penurunan angka kematian ibu di Indonesia. “Di seluruh dunia ada korelasi yang bersifat negatif (hubungan terbalik) antara proporsi kunjungan bidan/dokter kandungan dan angka kematian ibu. Meskipun dilaporkan proporsi kunjungan yang tinggi oleh bidan dan dokter (SDKI-2017), kematian ibu tetap menunjukkan angka yang tinggi, sehingga analisis menunjukkan bahwa kualitas layanan yang belum memenuhi standar adalah faktor utama yang menyebabkan AKI,” papar Hasto. 

Dalam upaya penurunan angka kematian ibu di Indonesia ini, Hasto sangat berharap bahwa teknologi telemedicine seperti Sehati TeleCTG bisa menjadi salah satu breakthrough yang dapat mendisrupsi upaya konvensional sehingga dapat mempercepat upaya penurunan kematian ibu. 

Sehati TeleCTG merupakan solusi yang dikembangkan oleh Sehati Group sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu melalui skrining faktor risiko, sistem rujukan terencana, pembukaan akses kolaborasi antara bidan dan dokter kandungan, hingga pemantauan kesehatan ibu hamil melalui data visual yang ditampilkan dalam Sehati Dashboard. 

Dibantu teknologi yang dapat digunakan oleh bidan, faktor risiko ibu hamil dapat terdeteksi secara dini sehingga bidan dapat melakukan rujukan lebih awal. Solusi Sehati TeleCTG itu sendiri terdiri dari aplikasi Sehati Bidan, TeleCTG (kardiotokografi digital dan portabel) yang dapat digunakan oleh bidan, dan Sehati Dashboard. Melalui data pemeriksaan ibu hamil yang diinput ke Sehati Bidan, secara otomatis bidan akan dapat memantau kesehatan ibu hamil yang menjadi pasiennya. 


Penggunaan Sehati TeleCTG di 14 Puskesmas di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari 7 angka kematian ibu pada tahun 2018 turun menjadi 2 pada tahun 2019, dengan penggunaan TeleCTG.

Leave a Comment

Your email address will not be published.